Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Pandanaran Semarang
Jurnal-sosioekotekno
EDISI 2014 VOL 2
sosioekotekno -Terbit 6 bulan sekali
jurnal ilmiah mahasiswa unpand
image

jurnal-sosioekotekno.org

02470797974


universitas pandanaran semarang
SLINK
INFO PPMB UNPAND www.unpand.ac.id

BEAYA STUDI UNPAND
    KELAS REGULER PAGI

 

    KELAS KARYAWAN SORE


    KELAS AKHIR PEKAN

 PENDAFTARAN ONLINE www.unpand.ac.id

 atau hub 024 70797974

 

Redaksi sosioekotekno

SosioEkoTekno
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Pandanaran
Mengkaji masalah-masalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Terbit 6 bulan sekali


Penerbit
Universitas Pandanaran


Penanggung Jawab
Rektor Universitas Pandanaran


Mitra Bestari
Harini Krisniati
Djoko Marsudi
Sri Praptono



Redaksi
Erwin Dwi Edi Wibowo (Pemred)
Widi Astuti
Anief Rufiyanto
Hermawan Budiyanto
MM. Minarsih
M Maria Sudarwani


Sekretaris Redaksi
Sri Subekti
Abrar Oemar


Tata Usaha
M Mahfud Efendi
Kusparyati




Alamat Redaksi
Jl. Banjarsari Barat 1 Banyumanik Semarang
Telp. 024 70797974   Facs. 024 76482711
e-mail info@unpand.ac.id

ANALISIS POSISI PERSAINGAN PEDAGANG KAKI LIMA KOMPONEN OTOMOTIF DI JL. BARITO SEMARANG

ANALISIS POSISI PERSAINGAN PEDAGANG KAKI LIMA KOMPONEN OTOMOTIF DI JL. BARITO
SEMARANG


M A R Y A N T I
EM. 0910294

Dosen Pembimbing:
    Patricia Diana Paramitha, SE.MM
Eko Sasono, SE, MM


ABTRAK

Penelitian kualitatif yang mengkaji posisi persaingan pedagang kaki lima komponen otomotif di Jl. Barito Semarang ini memperoleh hasil adanya persaingan pada pedagang kaki lima komponen otomotif yang dominan. Dilihat dari kekuatan dan kelemahan persaingan, posisi persaingan pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang ada pada kwadran I yaitu pada posisi usaha ideal, dengan kata lain para pedagang kaki lima memiliki peluang utama yang besar dengan ancaman yang kecil. Alternatif kebijakan yang diambil pedagang kaki lima komponen otomotif adalah alternatif tanda I (investasi) yang lebih banyak daripada tanda D (Divestasi). Hal ini dapat dilihat pada analisa SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threathment), yang merupakan gabungan dari posisi ETOP (Strenght, Weakness, Opportunity, Threathment) dengan hasil ideal bussiness dan posisi SAP (Strategic Advantage Profile) dengan hasil dominan.

Kata Kunci : Posisi Persaingan, Pedagang Kaki Lima, Komponen Otomotif

 
PENDAHULUAN
Perkembangan kota semarang yang demikian pesat telah membawa dampak yang cukup signifikan di sektor informal baik secara kuantitas maupun areal yang digunakan secara resmi maupun tidak resmi. Disamping itu krisis ekonomi yang hingga sekarang belum dapat terselesaikan dengan baik berakibat pada semakin sulitnya orang mendapatkan pekerjaan di sektor formal dan semakin banyaknya orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja karena banyaknya perusahaan yang gulung tikar.
Ekonomi rakyat adalah ekonomi pada skala yang kecil yang bersifat mandiri. Ekonomi ini dilakukan oleh perilaku ekonomi kecil baik dipedesaan maupun diperkotaan. Ekonomi rakyat lebih populer dengan sebutan sektor informal (Mubiyanto, 2005). Pelaku ekonomi ini biasanya mencari tempat – tempat yang ramai dan tidak membutuhkan modal yang cukup besar, dan biasanya digunakan sebagai alternatif termudah dalam usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup, misalnya pedagang kaki lima.
Pedagang kaki lima (PKL) disamping memberi manfaat dapat menyerap tenaga kerja, ujung tombak pemasaran industri besar juga dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah. Namun, pedagang kaki lima juga dapat menimbulkan masalah yang tidak kecil, misalnya kemacetan lalu lintas, drainase kota ataupun kepentingan pemilik rumah/ bangunan disepanjang kanan dan kiri jalan yang semua itu akan menimbulkan ketidaktertiban, ketidaknyamanan dan ketidakindahan. Maka bila tidak dikelola secara harmonis akan menimbulkan kekumuhan kota.
Didalam perkembangannya ternyata penataan pedagang kaki lima sering tidak sesuai dengan peraturan – peraturan yang ada, untuk itu pemerintah Kota Semarang mulai menangani masalah penertiban pedangan kaki lima yang dianggap sudah mengganggu kenyamanan dan keindahan kota Semarang. Menurut Walikota Semarang, penataan pedagang kaki lima selama ini memang menemui dilema, karena selama ini menurutnya pemerintah kurang proaktif dalam melakukan penertiban.
Saat ini sudah banyak pedagang kaki lima yang menempati areal resmi, seperti dikawasan Jl. Barito misalnya. Pedagang kaki lima ditempat tersebut mempunyai perkembangan usaha yang cukup pesat, terutama bila dilihat dari permodalan, omset penjualan, areal yang ditempati dan pangsa pasarnya. Dalam hal permodalan sudah mencapai puluhan juta rupiah. Lahan yang ditempati sudah semi atau permanen penuh. Pangsa pasarnya tidak hanya untuk konsumen kota Semarang saja, tetapi meluas hingga Jepara, Kudus, Pekalongan, Tegal, Solo, Jogja, Lamongan dan Gresik (Jawa Timur).
Bidang usaha yang diperdagangkan pedagang kaki lima di Jl. Barito memiliki kekhususan, seperti barang – barang otomotif dan kebutuhan rumah tangga. Melihat jenis barang yang diperdagangkan ternyata banyak yang sejenis, sehingga memiliki suatu kekhususan.
Bila melihat munculnya pedagang kaki lima di Jl. Barito, sebenarnya berawal ketika pemerintah kota Semarang memindahkan pedagang kaki lima di Tawang, Jl. Sendowo dan Jl. Kartini sekitar tahun 1980-an. Saat itu Jl. Barito berupa jalan kampung yang belum diaspal dan tidak  banyak kendaraan yang lewat jalan tersebut. Namun seiring perkembangan, pedagang kaki lima di Jl. Barito  bertambah dan berkembang pesat, dimana orang – orang mulai tertarik membeli barang  bekas dengan harga murah. Transaksi mulai berkembang sehingga pedagang berani menawarkan barang – barang baru dari pabrik, bahkan pendapatan per hari mencapai lebih dari Rp 1.000.000,- dan dari jumlah tersebut pedagang memperoleh keuntungan 10% .
Berdasarkan uraian di atas, kajian ini diharapkan dapat mengetahui dimana letak posisi persaingan pada pedagang kaki lima komponen otomotif yang ada di Jl. Barito. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan penerimaan pendapatan pedagang kaki lima komponen otomotif yang ada di Jl. Barito yang seacara otomatis mempengaruhi pendapatan Pemerintah Kota Semarang dari sektor pasar, juga untuk mengantisipasi perkembangan pedagang kaki lima selanjutnya yang harus di tata dengan manajemen yang sesuai.
Dari data sekunder yang diterima dari Dinas Pasar Kota Semarang jumlah pedagang kaki lima pada tahun 2009 sebanyak 9.345 pedagang, hal ini mengalami kenaikan pada tahun 2011 sebanyak 10.198 pedagang. Sedangkan pendapatan yang diterima Dinas Pasar Kota Semarang dari pedagang kaki lima didapatkan data pada tahun 2009 sebesar Rp 1.347.311.570 atau sebesar 85% dari target yang ditetapkan Pemerintah Kota Semarang dan pada tahun 2011  pendapatan naik sebesar Rp 1.501.467.965 (87,43%). Pada data di atas terlihat juga bahwa ada kenaikan jumlah pedagang kaki lima dari tahun 2009 hingga tahun 2011, hal ini menyebabkan pendapatan yang diterima pemerintah dari sektor retribusi pada pedangan kaki lima juga naik signifikan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan penelitian tentang : Bagaimanakah posisi persaingan yang terjadi pada pedagangn kaki lima komponen otomotif yang ada di Jl. Barito Semarang ?.

LANDASAN TEORI 
Manajemen Strategi
Manajemen strategi merupakan sekumpulan keputusan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi)  rencana – rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran – sasaran perusahaan.
Lain halnya dengan pendapat Suwarsono (2008) yang menyatakan bahwa manajemen strategi adalah sebagai usaha manajerial menumbuh kembangkan kekuatan perusahaan untuk mengeksploitasi  peluang bisnis yang muncul guna mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sesuai dengan misi yang telah ditentukan.
Komponen pokok manajemen strategi adalah :
1.    Analisis lingkungan bisnis yang diperlukan untuk mendeteksi  peluang dan ancaman bisnis.
2.    Analisis profil perusahaan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan perusahaan.Strategi bisnis yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan memperhatikan misi perusahaan.
Lingkungan Internal
Lingkungan dalam perusahaan selalu berubah – ubah sehingga manajemen harus mengikuti perubahan tersebut. Apabila tidak maka segala keputusan dan tindakan yang di ambil perusahaan tidak akan sesuai dengan situasi  dan kondisi lingkungan.
Menurut Pearce Robinson (2006) lingkungan internal merupakan strategi dari kompetensi intern perusahaan berdasarkan kekuatan dan kelemahan yang ada dalam lingkungan persaingan industri perusahaan. Inti dari strategi  yang dirumuskan secara baik adalah kesesuaian yang tepat antara peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan dengan kekuatan  dan kelemahan perusahaan itu sendiri.
Setiap unit usaha harus dievaluasi kekuatan dan kelemahannya. Akan tetapi tidak semua unit usaha harus mengoreksi semua kelemahan atau memanfaatkan semua kekuatan usahanya. Kadang – kadang suatu usaha tidak berjalan dengan baik bukan karena mereka tidak memiliki kekuatan, tetapi karena mereka tidak bekerjasama dengan baik. Variabel lingkungan internal antara lain keuangan, produk, sumber daya manusia, pemasaran, lokasi usaha dan organisasi.
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam analisis lingkungan  internal adalah SAP (Strategic Advantage Profil). Dalam analisis SAP akan terlihat gambaran posisi strategik para pedagang kaki lima komponen otomotif secara internal, dengan membandingkan antar pedagang kaki lima yang satu dengan  yang lainnya. Hal ini dilakukan dengan cara mengkaji bagaimana faktor keuangan, faktor produk, faktor sumber daya manusia, pemasaran dan faktor lokasi usaha  pedagang kaki lima untuk menentukan posisi kekuatan sehingga para pedagang kaki lima mempunyai peluang yang efektif dalam bersaing.
Disamping itu, alternatif strategi utama guna mempertahankan kelangsungan pedagang kaki lima komponen  otomotif di Jalan Barito dapat digunakan  sebagai pedoman untuk eksis dan dinamis mempertahankan keindahan dan daya tarik bagi kota Semarang.
Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal adalah faktor – faktor yang bersumber dari luar dan biasanya berhubungan dengan situasi operasional suatu perusahaan. Lingkungan ini memberi peluang, ancaman dan kendala bagi perusahaan, tetapi satu perusahaan jarang sekali mempunyai pengaruh berarti terhadap lingkungan ini.
Untuk mengetahui adanya peluang dan ancaman diperlukan analisis lingkungan dan diagnosis lingkungan. Glueck dan Jauch (2002) memberikan alat bantu tersebut dengan ETOP (Environment Threat and Opputtunity Profile).
Lingkungan sosial termasuk kekuatan umum yang secara tidak langsung berhubungan dengan aktivitas – aktivitas organisasi  jangka pendek tetapi dapat dan sering kali dapat mempengaruhi keputusan jangka panjang.
-    Kekuatan ekonomi yang mengatur pertukaran material, uang, energi, dan informasi;
-    Kekuatan tekonologi yang menghasilkan penemuan pemecah masalah;
-    Kekuatan hukum politik yang mengalokasikan kekuasaan dan menyediakan pemaksaan dan perlindungan hukum dan aturan – aturan;
-    Kekuatan sosiaokultural yang mengatur nilai – nilai, adat-istiadat dan kebiasaan lingkungan.
Lingkungan kerja termasuk elemen – elemen atau kelompok yang berpengaruh langsung pada perusahaan  dan pada gilirannya akan dipengaruhi oleh perusahaan dan pada gilirannya akan dipengaruhi oleh perusahaan. Kelompok in terdiri dari pemerintah, komunitas, lokal, pemasok, pesaing, pelanggan, kreditur, tenaga kerja atau serikat buruh, kelompok kepentingan khusus dan asosiasi perdagangan. Lingkungan keja perusahaan pada umumnya.
1.    Bisnis ideal, merupakan usaha yang peluangnya tinggi dengan ancaman yang rendah atau bahkan tidak ada.
2.    Bisnis spekulatif, merupakan peluang dan ancaman yang rendah.
3.    Bisnis dewasa, mempunyai peluang dan ancaman yang rendah
4.    Bisnis kacau, adalah bisnis yang  peluangnya rendah dan  ancamannya tinggi.
Persaingan
Peserta persaingan dalam suatu pasar tertentu, dalam setiap kilasan waktu yang berbeda dalam hal tujuan dan sumber daya  mereka, juga dalamhal strategi yang dijalankan. Persaingan adalah suatu tindakan /strategi yang dilakukan dengan tujuan pelanggaran dengan cara menyediakan dan memenuhi  kebutuhan konsumen.

Berdasarkan substitusi produk, tingkat persaingan dapat dibedakan  menjadi empat, yaitu :
1.    Persaingan merek
Persaingan ini terjadi apabila suatu perusahaan menganggap para pesaingnya  adalah perusahaan lain yang menawarkanproduk dan jasa yang  serupa pada pelanggan yang sama dengan harga yang sama.
2.    Persaingan industri
Terjadi apabil suatu perusahaan menganggap para pesaingnya adalah semua perusahaan yang membuat produk yang sama.
3.    Persaingan bentuk
Terjadi apabila perusahaan menganggap para pesaingnya adalah semua perusahaan yang memproduksi produk yang memberikan jasa yang sama.
4.    Persaingan generik
Terjadi apabila suatu perusahaan menganggap para pesaingnya adalah semua perusahaan yang bersaing untuk mendapatkan konsumen yang sama.
SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat)
Tantangan seorang pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan baru yang terus berkembang diperlukan penyesuaian strategi. Analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) harud dilakukan  secara terus menerus, sehingga pengelola peka terhadap  perubahan – perubahan dan waspada terhadap kecenderungan – kecenderungan yang terjadi secara eksternal.
Dalam menganalisa teori SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) harus berpedoman pada dua titik pandang yang menjadi pusat perhatian yaitu segala sesuatu yang berada di dalam kendali (internal) dan segala sesuatu yang ada di luar kendali (eksternal).
Pedagang Kaki Lima
Pedagang kaki lima adalah orang yang mencari nafkah denga berdagang di lantai yang diberi atap sebagai penghubung rumah dengan rumah atau serambi muka (emper) toko di pinggir jalan (biasanya berukuran lima kaki, biasa dipakai sebagai tempat berjualan) atau lantai di tepi jalan.
Menurut peraturan Daerah Semarang Nomor 3 tahun 1986 Jo Peraturan Daerah  no. 11 tahun 2000,  bahwa : ”Pedagang kaki lima adalah mereka yang didalam usahanya menggunakan sarana dan atau perlengkapan yang mudah di bongkar  pasang atau dipindahkan serta mempergunakan bagian jalan atau trotoar, tempat – tempat  untuk kepentingan umum yang  bukan diperuntukkan bagi tempat usaha atau tempat lain yang bukan miliknya.”
Berdasarkan kriteria operasional, pengertian pedagang kaki lima ada 2 (dua) macam, yaitu :
1.    Pedagang Kaki Lima Tertata
Adalah pedagang kaki lima yang ada dalam usahanya sehari – hari menempati lokasi yang telah sesuai (diijinkan oleh Walikota Semarang) dan memiliki ijin tempat dasaran serta mentaati ketentuan – ketentuan (peraturan – peraturan) yang telah ditetapkan Pemerintah Daerah secara baik seperti membayar retribusi sewa lahan dan retribusi kebersihan serta menjaga kebersihan, ketertiban dan keindahan wilayahnya secara teratur.
2.    Pedagang Kaki Lima Binaan
Adalah pedagang kaki lima yang dalam usahanya sehari – hari menempati lokasi larangan (yang tidak diijinkan Walikota Semarang) dan dikenakan penarikan retribusi, namun keberadaannya selalu diawasi, dibina dan diarahkan untuk menjadi pedagang kaki lima yang baik (diharapkan lambat laun bersedia menempati lokasi usaha yang telah ditetapkan Pemerintah)
Pedagang kaki lima memiliki ciri – ciri sebagai berikut:
1.    Pola kegiatannya tidak teratur, baik permodalan, maupun penghasilan
2.    Tidak tersentuh oleh peraturan atau ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga kegiatannya sering dikatakan liar (masalah legislatif)
3.    Peralatan dan perlengkapan yang dimiliki sangat sederhana
4.    Tempat / lokasi usaha tidak menetap
Usaha Komponen Otomotif
Usaha komponen otomotif termasuk dalam usaha kecil. Menurut Croskey et. Al (2006) usaha kecil merupakan suatu usaha  yang dimiliki serta dijalankan oleh beberapa orang yang memiliki modal terbatas. Undang – undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, dikatakan bahwa usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala  kecil dan memenuhi  kriteria :
1.    Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
2.    Margin yang diperoleh rendah, karena tingkat persaingan yang tinggi.
3.    Keterbatasan modal.
4.    Memiliki pengalaman manajerial yang sangat terbatas.
5.    Kemampuan menekan biaya guna mencapai tingkaqt efisiensi jangka panjang sebagai akibat dari kecilnya skala ekonomi.
6.    Keterbatasan salam kemampuan pemasaran dan negosiasi serta diversifikasi.
Oleh karena itu  dapat dikatakan bahwa usaha komponen otomotif merupakan pedagang atau pengusaha usaha kecil  yang melakukan kegiatan penyediaan komponen dan perlengkapan mobil, sepeda motor dan sejenisnya.

METODE PENELITIAN
Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Menurut Donald R. Cooper diterjemahkan oleh Ellen Gunawan dan Imam Nurinawan (2009) menjelaskan bahwa tipe penelitian deskriptif merupakan penelitian untuk menjawab  pertanyaan siapa, apa, dimana, bilamana, atau berapa banyak pada objek yang diteliti.
Definisi Konsep Dan Definisi Operasional
Pada pembahasan ini, definisi konsep dapat diuraikan sebagai berikut :
1.    Lingkungan Internal
Merupakan strategi dari kompetensi intern pedagang kaki lima komponen otomotif berdasarkan kekuatan dan kelemahan yang adadalam lingkungan persaingan baik dalam segi operasional maupun manajerial.
Definisi operasional dan lingkungan internal adalah :
a.    Keuangan (modal)
Besarnya modal (uang) yang dimiliki oleh pedagang kaki lima  komponen otomotif di Jalan Barito  Semarang yang menentukan besar kecilnya usaha yang di jalankan.
b.    Produk
Merupakan rupa – rupa jenis barang yang di jual oleh pedagang kaki lima dalam hal ini adalah komponen, onderdil,  mekanik, elektrik, yang berhubungan dengan usaha  otomotif (mobil dan sepeda motor)
c.    Sumber daya manusia
Merupakan jumlah tenaga kerja yang dimiliki  oleh pedagang kaki lima komponen otomotif, baik itu tenaga ahli bidang otomotig maupun tenaga penjualan
d.    Pemasaran
Suatu kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan jumlah pendapatan  bagi pedagang kaki lima komponen otomotif. Hal ini berkaitan dengan promosi penjualan.
e.    Lokasi usaha
Tempat usaha yang dimiliki oleh pedagang kaki lima  komponen otomotif di jalan Barito Semarang, baik permanent atau semi permanent.


2.    Lingkungan eksternal
Faktor – faktor yang bersumber dari luar, dan biasanya berhubungan dengan situasi operasional perusahaan. Lingkungan yang seperti ini memberi peluang, ancaman dan kendala bagi perusahaan, tetapi satu perusahaan  jarang sekali mempunyai pengaruh berarti terhadap lingkungan ini. Definisi operasional dari lingkungan eksternal adalah :
a.    Aspek Pelanggan
Adalah aspek yang berkaitan dengan kepuasan dan keaktifan pelanggan secara langsung.
b.    Aspek Suplier
Adalah aspek yang berkaitan dengan tingkat komunikasi antara supliyer dan pedagang kaki komponen otomotif.
c.    Aspek Ekonomi
Adalah studi yang berkaitan dengan pendapatan, laba – rugi, dan hutng serta kegunaan usaha bagi kelangsungan hidup pedagang kaki lima komponen otomotif.
d.    Aspek Sosial
Adalah aspek yang berkaitan dengan strata sosial, pendidikan, pergaulan, kelompok dan komunikasi pedagang kaki lima komponen otomotif kepada lingkungannya.
e.    Aspek politik
Adalah aspek yang berkaitan dengan lingkungan yang terbentuk dari hukum – hukum, lembaga pemerintah, dan pesaing yang mempengaruhi pedagang kaki lima komponen otomotif.
Sumber Data
1.    Sumber data primer pada penelitian ini adalah diambil dari sampel penelitian, yaitu pejabat yang berwenang menangani pendataan dan penataan pedagang kaki lima (dalam hal ini Unit Pengelola Pedagang Kaki Lima dan pejabat kelurahan terkait), para pedagang kaki lima komponen otomotif dan konsumen.
2.    Data sekunder pada penelitian ini diperoleh melalui riset kepustakaan, data dari Dinas Pasar Kota Semarang dan catatan – catatan lain, seperti laporan hasil seminar yang sifatnya sebagai pelengkap.
Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pedagang kaki lima komponen otomotif yang menempati sepanjang Jl. Barito Semarang dari jembatan Banjir Kanal Timur sampai dengan perbatasan Kaligawe kurang lebih panjang 4 Km.
Metode Pengumpulan Data
Metode yang dipergunakan dalam pengumpulan data adalah dengan metode kuesioner yang diberikan kepada responden dengan pertanyaan – pertanyaan yang memiliki alternatif jawaban yang paling sesuai.
Metode Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Treatment) untuk menggambarkan posisi persaingandigunakan beberapa alat analisa antara lain : SAP (Strategic advantage Profile), ETOP, serta matrik SWOT (Strenght, Weakness, Oppurtunity, Treatment).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Variabel Lingkungan Internal
Aspek Keuangan
Hasil penelitian mengenai aspek keuangan yang diambil dari 22 responden dapat dilihat pada berikut ini :
Tabel 1. Aspek Keuangan
No.    Kategori    Aspek Keuangan
        M A B    M A S    A L K
1.    Sangat Tidak Setuju     1
(5%)    0
(0%)    2
(9%)
2.    Tidak Setuju     4
(18%)    6
(27%)    10
(46%)
3.    Cukup Setuju     1
(5%)    2
(9%)    1
(5%)
4.    Setuju     14
(64%)    10
(46%)    7
(31%)
5.    Sangat setuju    2
(10%)    4
(18%)    2
(9%)
Total    22
(100%)    22
(100%)    22
(100%)

Keterangan :
MAB    = modal awal besar
MAS     = modal awal sulit
ALK    = adanya lembaga keuangan yang dengan syarat mudah dan bunga rendah
Hal pada tabel 1 menunjukkan lembaga keuangan yang mau memberikan pinjaman modal bunga yang rendah sulit didapat.
Tabel 2. Analisis Variabel Aspek Keuangan
Item    Nilai kekuatan    Nilai kelemahan
Modal awal besar    14    -
Modal awal sulit    10    -
Ada lembaga keuangan yang memberi pinjaman modal    -    10
TOTAL    24    10
Tabel 2 menunjukkan posisi persaingan pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang kuat pada variabel modal awal besar dan modal awal sulit, namun lemah pada variabel adanya lembaga keuangan yang meminjamkan modal dengan proses cepat dan bunga yang rendah.
Aspek produk
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3. Aspek Produk
No.    Kategori    Aspek Produk
        PBM    DP    KMT
1.    Sangat Tidak Setuju     0
(0%)    0
(0%)    0
(0%)
2.    Tidak Setuju     4
(18%)    4
(18%)    0
(46%)
3.    Cukup Setuju     0
(0%)    1
(5%)    0
(0%)
4.    Setuju     14
(64%)    15
(68%)    16
(73%)
5.    Sangat setuju    4
(18%)    2
(9%)    6
(27%)
Total    22
(100%)    22
(100%)    22
(100%)
Keterangan :
PBM     : Pengadaan  barang dagangan mudah
DP     : Divesifikasi Produk
KMT     : kualitas & mutu barang terjamin
Hasil penelitian pada tabel 3 sebagian besar pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang dalam aspek produk tidak mengalami kendala yang cukup berarti pada variabel, mudahnya pengadaan barang, diversifikasi produk dan mutu / kualitas barang yang terlihat dominan pada kategori setuju.
Tabel 4. Analisis Variabel Aspek Produk
Item    Nilai kekuatan    Nilai kelemahan
Pengadaan barang dagangan mudah    14    -
Diversifikasi barang    15    -
Kualitas / mutu barang terjamin    16    -
TOTAL    45    0
Tabel di atas menunjukkan posisi persaingan pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito kuat dilihat dari aspek produknya.
Aspek Sumber Daya Manusia
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5. Aspek Sumber Daya Manusia
No.    Kategori    Aspek SDM
        JKS    KPK    KR
1.    Sangat Tidak Setuju    2
(9%)    0
(0%)    0
(0%)
2.    Tidak Setuju    6
(27%)    4
(19%)    0
(46%)
3.    Cukup Setuju    2
(9%)    2
(9%)    0
(0%)
4.    Setuju    12
(55%)    8
(36%)    12
(55%)
5.    Sangat setuju    0
(0%)    8
(36%)    10
(45%)
Total    22
(100%)    22
(100%)    22
(100%)
Keterangan :
JKS     =Jumlah karyawan sedikit
KPK     =Karyawan punya keahlian dan ketrampilan  menjual
KR     =Karyawan ramah terhadap pelanggan
Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang dalam aspek sumber daya manusia tidak mengacu pada jumlah karyawan akan tetapi pada bertumpu pada keahlian dan ketrampilan karyawan serta kualitas pelayanan terhadap pelanggan.
Tabel 6. Analisa Variabel Aspek Sumber Daya Manusia
Item    Nilai kekuatan    Nilai kelemahan
Jumlah karyawan sedikit     12    -   
Karyawan diberi keahlian dan ketrampilan    8    -
Sikap karyawan ramah    12    -
Total    32    0
Tabel di atas menunjukkan posisi persaingan pedagang kaki lima  komponen otomotif di Jalan Barito Semarang kuat dilihat dari aspek sumber daya manusianya.
Aspek pemasaran
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat disajikan pada tabel berikut.
Tabel 7. Aspek Pemasaran
No.    Kategori    Aspek Pemasaran
        PMP    MPJP    HBP
1.    Sangat Tidak Setuju     2
(9%)    2
(9%)    4
(18%)
2.    Tidak Setuju     4
(18%)    2
(9%)    6
(27%)
3.    Cukup Setuju     0
(0%)    0
(0%)    2
(9%)
4.    Setuju     12
(55%)    14
(64%)    10
(46%)
5.    Sangat setuju    4
(18%)    4
(18%)    0
(0%)
Total    22
(100%)    22
(100%)    22
(100%)
Keterangan :
PMP     = promosi menunjang penjualan 
MPJP     = mutu penjualan merupakan jenis promosi
HBP     = harga barang ditetapkan oleh pemerintah
Hasil pada tabel 7 menunjukkan sebagian besar pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang sangat setuju apabila faktor promosi  merupakan penunjang angka penjualan produk dan jasa mereka.
Tabel 8. Analisis Variabel Aspek Pemasaran
Item    Nilai kekuatan    Nilai kelemahan
Promosi menujang penjualan    12    -
Mutu pelayanan merupakan promosi secara tidak langsung    14    -
Pemerintah menetapkan harga barang     10    -
Total    36    0
Tabel 8  menunjukkan adanya pedagang yang tidak setuju apabila harga ditetapkan oleh pemerintah, karena hal ini sama saja dengan menganut sistem ekonomi monopoli, sehingga pedagang kaki lima tidak dapat bersaing sehat.
Aspek Tempat Usaha
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 9. Aspek Tempat Usaha
No.    Kategori    Aspek Tempat Usaha
        TUS    LUD    BLP
1.    Sangat tidak setuju     0
(0%)    0
(0%)    4
(18%)
2.    Tidak setuju     0
(0%)    0
(0%)    0
(0%)
3.     Cukup setuju     0
(0%)    2
(9%)    4
(4%)
4.    Setuju     16
(73%)    14
(64%)    8
(37%)
5.    Sangat setuju    6
(27%)    6
(27%)    6
(27%)
Total    22
(100%)    22
(100%)    22
(100%)
Keterangan
TUS     = tempat usaha strategis
LUD     = lokasi usaha dekat dengan distribusi barang
BLP     = bangunan semi permanen / permanen  dilengkapi fasilitas dari pemerintah
Tabel 9 menunjukkan tempat usaha pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang strategis dan dekat dengan distributor. Selain itu tempat usaha sudah permanen dan semi permanen.
Tabel 10. Analisi Variabel  Aspek Tempat Usaha
Item    Nilai kekuatan    Nilai kelemahan
Tempat usaha strategis    16    -
Akses dengan barang dagangan & transportasi mudah     14    -
Bangunan dilengkapi fasilitas dari pemerintah    8    -
Total    38    0
Tabel 10 menunjukkan posisi persaingan pedagang kaki lima pada aspek tempat usaha kuat .
Variabel Lingkungan Eksternal
Aspek Pelanggan
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 11. Aspek Pelanggan
No.    Kategori    Aspek pelanggan
        KP    PMB
1.    Sangat tidak setuju    0
(0%)    1
(15%)
2.    Tidak setuju     4
(18%)    2
(9%)
3.    Cukup setuju    4
(18%)    4
(18%)
4.    Setuju    12
(55%)    13
(59%)
5.    Sangat setuju    2
(9%)    2
(9%)
Total    22
(100%)    22
(100%)
Keterangan :
KP     =     kepuasan pelanggan
PMB    =    pelanggan memberi masukan tentang pengadaan barang.
Tabel 11 menunjukkan responden memberikan penilaian pada kategori setuju pada variabel kepuasan pelanggan ikut memberikan masukan mengenai pengadaan barang.
Aspek Suplier
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 12. Aspek Supplier
No.    Kategori    Aspek Supplier
        SK    SAM
1.    Sangat tidak setuju    0
(0%)    0
(0%)
2.    Tidak setuju     0
(0%)    0
(0%)
3.    Cukup setuju    6
(27%)    2
(9%)
4.    Setuju    10
(46%)    14
(64%)
5.    Sangat setuju    6
(27%)    6
(27%)
Total    22
(100%)    22
(100%)
Keterangan
SK     = supplier kooperatif
SAM    = supplier aktif memberikan masukan    mengenai kualitas barang
Tabel di atas, didapat gambarann bahwa responden yang memberikan penilaian setuju pada variabel supplier kooperatif dan supplier selalu  memberikab masukan mengenai kualitas barang.
Tabel 4.13 Analisis Variabel Aspek Supplier
Item    Nilai kekuatan    Nilai Kelemahan
Pelanggan puas    10    -
Pelanggan ikut memberi masukan pada barang yang hendak di jual     14    -
Total    24    0
Tabel 13 di atas dapat di ketahui posisi posisi persaingan pada aspek aspek suppliernya kuat .
Aspek Ekonomi
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 14. Aspek Ekonomi
No.    Kategori    Aspek pelanggan
        UTH    HB    KMT
1.    Sangat tidak setuju    0
(0%)    0
(0%)    0
(0%)
2.    Tidak setuju     2
(9%)    2
(9%)    8
(36%)
3.    Cukup setuju    0
(0%)    2
(9%)    6
(28%)
4.    Setuju    16
(73%)    18
(82%)    8
(36%)
5.    Sangat setuju    4
(18%)    0
(0%)    0
(0%)
Total    22
(100%)    22
(100%)    22
(100%)
Keterangan
UTH    = usaha ini sebagai tumpuan hidup
HB     = harga bersaing
KMT    = keuntungan memenuhi target
Tabel di atas menunjukkan bahwa usaha pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang merupakan tumpuan hidup di tengah perasingan harga yang ketat sehingga belum dapat memenuhi target keuntungan.
Tabel 15 Analisis Variabel Aspek Ekonomi
Item    Nilai kekuatan    Nilai kelemahan
Usaha ini merupakan tumpuan hidup    16    -
Harga bersaing dengan pedagang lain    18    -
Keuntungna melebihi target    -    8
Total    34    8
Tabel di atas menunjukkan posisi persaingang pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang cukup kuat dilihat dari aspek ekonominya.
Aspek Sosial
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 16. Aspek Sosial
No.    Kategori    Aspek sosial
        PP    PK    KMU
1.    Sangat tidak setuju    0
(0%)    0
(0%)    0
(0%)
2.    Tidak setuju     4
(18%)    2
(9%)    2
(9%)
3.    Cukup setuju    2
(9%)    2
(9%)    4
(18%)
4.    Setuju     14
(64%)    18
(82%)    12
(55%)
5.    Sangat setuju    2
(9%)    0
(0%)    4
(18%)
Total    22
(100%)    22
(100%)    22
(100%)

Keterangan :
PP     = pendidikan penting bagi kemajuan usaha
PK     = pengaruh kelompok menjadikan usaha lebih baik
KMU    = komunikasi menunjang usaha
Tabel di atas menunjukkan nilai dominan terdapat pada kategori setuju, yaitu faktor pendidikan, pengaruh kelompok dan kemampuan berkomunikasi hal ini ditandai dngan sebagian besar pedagang yang mempunyai pendidikan SMU, DIII bahkan ada yang sarjana.
Tabel 17. Analisis Variabel Aspek Sosial
Item    Nilai kekuatan    Nilai Kelemahan
Pendidikan penting bagi kemajuan usaha     14    -
Pengaruh kelompok menjadikan usaha lebih baik    18    -
Komunikasi menunjang     15    -
Tabel di atas menunjukkan posisi persaingan pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang kuat dilihat dari aspek sosialnya.
Aspek Politik
Hasil kuesioner yang disebarkan kepada 22 responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 18. Aspek Politik
No.    Kategori    Aspek politik
        PUB    KDP    PSL
1.    Sangat tidak setuju     2
(9%)    2
(9%)    4
(18%)
2.    Tidak setuju     6
(27%)    4
(18%)    12
(55%)
3.     Cukup setuju     10
(46%)    0
(0%)    4
(18%)
4.    Setuju    2
(9%)    12
(55%)    0
(0%)
5.     Sangat setuju    2
(9%)    4
(18%)    0
(0%)
Total    22
(100%)    22
(100%)    22
(100%)
Keterangan :
PUB    = peraturan membawa  usaha ke arah yang lebih baik
KDP    = kebijakan Dinas Pasar Kota  Semarang membuat usaha lebih baik
PSL    = Perda kota Semarang no. 13 / 1999 tentang sewa lahan
Tabel di atas sebagian besar pedagang kaki  lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang masih  ragu – ragu dengan tujuan dibuatnya peraturan tersebut. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa peraturan  tersebut  dibuat untuk kepentingan  sepihak sepihak pemerintah daerah. Kemudian pada variabel kebijakan Dinas Pasar Kota Semarang yang membuat usaha pedagang kaki lima lebih baik menyambut baik kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan oleh Dinas Pasar, di antaranya retribusi kebersihan yang membuat lingkungan mereka menjadi bersih dan nyaman. Sedangkan pada variabel Perda Kota Semarang no. 13/1999 tentang sewa lahan para konsumen melihat bahwa pendapatan pedagang kaki lima yang minim, bahkan terkadang tidak memenuhi kebutuhan hidup harus dibebani dengan sewa lahan yang harus dibayar per hari.
Tabel 19. Analisis Variabel Aspek Politik
Item    Nilai kekuatan    Nilai kelemahan
Peratusan membuat usaha PKL lebih baik    10    -
Kebijakan Dinas Pasar membuat usaha lebih baik    12    -
Perda Kota Semarang     -    12
Total    22    12
Tabel di atas menunjukkan bahwa masyarakat berharap pemerintah tidak membuat peraturan yang merugikan pedagang kaki lima, sebaliknya pemerintah  dituntut untuk membuat peraturan  yang melindungi kepentingan pedagang kaki lima.
Analisa Posisi Persaingan
Pada lingkungan internal, alat analisis yang digunakan adalah SAP (Strategic Advantage Profile). Sedangkan pada lingkungan eksternal, alat analisis yang digunakan adalah ETOP (Environmental Threath and Opportunity Provile).
Tabel 20. Analisis SAP (Strategic Advantage Profile)
Aspek    Total skor kekuatan    Total skor kelemahan    Bobot %    Keku
atan    Kele
mahan
Keuangan     24    10    14    3.36    1.40
Produk    45    0    26    11.7    0
SDM    32    0    18    6.66    0
Pemasaran    36    0    20    7.20    0
Tempat usaha    38    0    22    8.36    0
Total    175    10    100    37.28    1.40
Tabel menunjukkan nilai kekuatan sebesar 37.28 dan kelemahan sebesar 1,40. Kedua nilai tersebut dibagi 5 (angka 5 didapat dari 5 aspek internal) sehingga masing – masing nilai adalah sebesar 7,46 untuk kekuatan dan 0,28 untuk kelemahan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa posisi persaingan pada pedagang kaki lima komponen otomotif berada pada posisi persaingan dominan (dominant) yaitu > 4,18. Hal ini berarti pada posisi ini pedagang kaki lima komponen otomotif mampu mengendalikan perilaku strategis – strategis pesaing – pesaing lainnya serta memiliki banyak pilihan strategis, tanpa terpengaruh tindakan-tindakan pesaingnya.
Tabel 21. Analisis ETOP (Environmental Threath and Opportunities)
Aspek    Total skor kekuatan    Total skor kelemahan    Bobot
%    Keku
atan    Kele
mahan
Pelanggan     26    0    17    4.42    0
Suplier    24    0    16    3.84    0
Ekonomi    34    8    22    7.48    1.76
Sosial    47    0    31    14.57    0
Politik    22    12    14    3.08    1.68
    153    20    100    33.39    3.44

Tabel di atas menunjukkan kekuatan sebesar 33,39 dan kelemahan sebesar 3,44. Kedua nilai tersebut dibagi 5 (angka 5 didapat dari 5 aspek eksternal) sehingga masing – masing nilai adalah 6,67 untuk kekuatan dan 0,68  untuk kelemahan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa posisi persaingan pada pedagang kaki lima komponen otomotif di gambarkan dari pepotongan antara garis horizontal ada pada kwadran I yaitu pada posisi usaha ideal, dengan kata lain para pedagang kaki lima memiliki peluang utama yang besar dengan ancaman yang kecil.
Analisa SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Treatment)
Swot (Strenght, Weakness, Opportunity, Treatment) merupakan gabungan dari hasil analisa SAP (Strategi Advantage Profile) dan ETOP (Environmental Threath and Opportunity Profile). Berdasarkan gabungan dari hasil analisis SAP (Strategi Advantage Profile) dan analisis ETOP (Strenght, Weakness, Opportunity, Treatment) yang telah di uraikan di atas maka dapat dirangkum dalam sebuah matrik untuk menggambarkan alternatif kebijakan yang di ambil pedagang kaki lima komponen otomotif.

Gambar 2. Matrik posisi SWOT
       ETOP
SAP    Ideal Bussiness    Nature Bussiness    Spekulatif Bussiness    Trouble Bussiness
Dominant     I    I    I    I
Strong     I    I    I    I
Favorable     I    I    I    D
Tenable     I    I    D    D
Weak     I    D    D    D
Nonviable     D    D    D    D

Posisi dengan tanda I (Investment) adalah posisi yang mempunyai alternatif strategi yang lebih baik banyak dibandingkan dengan posisi D (Ddivestasi). Hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang memenuhi alternatif tanda I (daerah di arsir), karena ETOP (Environment, Threath dan Opportunity Profile) adalah ideal bussiness dan posisi SAP (Strategic Advantage Profile) adalah dominan.

SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut :
1.    Profil persaingan pada pedagang kaki lima komponen otomotif adalah dominan dan berada pada posisi persaingan dominan (dominan) yaitu antara > 4,18. Hal ini terlihat pada analisa SAP (Strategic Advantage Profile) dengan nilai kekuatan nilai sebesar 7,46 dan nilai kelemahannya sebesar 0,28.
2.    Dilihat dari kekuatan dan kelemahan persaingan, posisi persaingan pedagang kaki lima komponen otomotif di Jalan Barito Semarang ada pada kwadran I (6,67 ; 0,68) yaitu pada posisi usaha ideal, dengan kata lain para pedagang kaki lima memiliki peluang utama yang besar dengan ancaman yang kecil. Hal ini terlihat pada analisa ETOP (Environment Threath and Opportunity Profile).
3.    Alternatif kebijakan yang diambil pedagang kaki lima komponen otomotif adalah alternatif tanda I (investasi) yang lebih banyak daripada tanda D (Divestasi). Hal ini dapat dilihat pada analisa SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threathment), yang merupakan gabungan dari posisi ETOP (Strenght, Weakness, Opportunity, Threathment) dengan hasil ideal bussiness dan posisi SAP (Strategic Advantage Profile) dengan hasil dominan.
Saran yang dapat diajukan berdasarkan simpulan di atas adalah sebagai berikut :
1.    Bagi Pemerintah Kota  (dalam hal ini Dinas Pasar Kota Semarang), di usahakan pedagang kaki lima otomotif tetap eksis dan perlu ditingkatkan penanganan, penataan, dan pembinaan secara serius dan kontinyu yang bekerjasama dengan pihak – pihak terkait.
2.    Pedagang kaki lima komponen otomotif bisa dijadikan contoh untuk pedagang kaki lima yang lain (selain pedagang kaki lima komponen otomotif), baik di dalam maupun di luar Jalan Barito Semarang.
3.    Pemerintah seyogyanya segera merealisasikan rencana pembuatan pasar khas bagi pedagang kaki lima di Kota Semarang. Hal ini selain berdampak pada sektor pariwisata (pasar yang unik), otomatis akan meningkatkan pendapatan asli daerah.

DAFTAR PUSTAKA
Cooper, Donald R, Penerjemah:Ellen Gunawan dan Imam Nurmawan, 2006.Metodologi Penelitian Bisnis. Edisi ke-5.Erlangga.Jakarta

Dinas Pasar Kota Semarang, 2010. Draft Laporan Akhir Perencanaan dan Pengembangan Pasar Khas Pedagang kaki Lima di Kota Semarang.Pemerintah Kota Semarang.

    , 2009.Rencana Strategis Kota Semarang Tahun 2005-2009,Pemerintah Kota Semarang.

Glueck, William F dan Lawrence R, Jauch, 2004.Manajemen Strategi.Erlangga.Jakarta.

Kloter, Philip, 2004.Manajemen Pemasaran.Edisi Mienium,Prenhalindo,Jakarta.

Marzuki, Drs, 2005.Metode Riset, BPFE UII,Yogyakarta.

Mubiyarto, 1997.Ekonomi Rakyat Program IDT dan Demokrasi Ekonomi.Aditya.Yogyakarta.

Peraturan Daerah No. 13 Tahun 2008 Mengenai Retribusi.

Porten, Michael E. 2007. Keunggulan Bersaing. Erlangga. Jakarta.

Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2007. Kamus Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Robinson, Pearce, 2009. Manajemen Strategik, Jilid Satu. Binarupa Aksara. Jakarta

Stoner, James A. F, 2010. Manajemen Strategik.Erlangga.Jakarta.

Suwarsono, 2005.Manajemen Strategik, Edisi pertama. Akademi Manajemen Perusahaan, Yogyakarta.

Tjipto, Fandy, 2007.Strategi Pemasaran. Andi Offset.Yogyakarta.

Wasito, Hermawan, 2008.Pengantar Metodologi Penelitian, Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Winardi, 2005. Pengantar Ilmu Ekonomi, Edisi UI, Penerbit Tarsito, Bandung.

Sun, 21 Apr 2013 @13:47

Copyright © 2014 TEAM IT Universitas Pandanaran semarang · All Rights Reserved