Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Pandanaran Semarang
Jurnal-sosioekotekno
EDISI 2014 VOL 2
sosioekotekno -Terbit 6 bulan sekali
jurnal ilmiah mahasiswa unpand
image

jurnal-sosioekotekno.org

02470797974


universitas pandanaran semarang
SLINK
INFO PPMB UNPAND www.unpand.ac.id

BEAYA STUDI UNPAND
    KELAS REGULER PAGI

 

    KELAS KARYAWAN SORE


    KELAS AKHIR PEKAN

 PENDAFTARAN ONLINE www.unpand.ac.id

 atau hub 024 70797974

 

Redaksi sosioekotekno

SosioEkoTekno
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Pandanaran
Mengkaji masalah-masalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Terbit 6 bulan sekali


Penerbit
Universitas Pandanaran


Penanggung Jawab
Rektor Universitas Pandanaran


Mitra Bestari
Harini Krisniati
Djoko Marsudi
Sri Praptono



Redaksi
Erwin Dwi Edi Wibowo (Pemred)
Widi Astuti
Anief Rufiyanto
Hermawan Budiyanto
MM. Minarsih
M Maria Sudarwani


Sekretaris Redaksi
Sri Subekti
Abrar Oemar


Tata Usaha
M Mahfud Efendi
Kusparyati




Alamat Redaksi
Jl. Banjarsari Barat 1 Banyumanik Semarang
Telp. 024 70797974   Facs. 024 76482711
e-mail info@unpand.ac.id

PENGARUH TINGKAT KOMPETENSI DAN PENGALAMAN KERJA TERHADAP ETOS KERJA (STUDI KASUS GURU BERSERTIFIKASI DI SMA NEGERI 14 SEMARANG)

PENGARUH TINGKAT KOMPETENSI DAN PENGALAMAN
KERJA TERHADAP ETOS KERJA (STUDI KASUS GURU BERSERTIFIKASI DI SMA NEGERI 14 SEMARANG)


S U P R A T M I
EM.09.10.309

Dosen Pembimbing:
1. Maria M Minarsih, SE.MM
    2. Patricia Diana Paramitha, SE.MM


ABTRAK

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tingkat kompetensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja para guru sertifikasi menggunakan populasi guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang. Teknik mengambilan sampel dilakukan secara sensur, yaitu seluruh populasi dijadikan sampel. Pengumpulan data dengan metode angket/kuesioner, dokumentasi dan wawancara sedangkan analisis data menggunakan analisis regresi. Hasil yang didapat dari penelitian yaitu baik secara parsial maupun secara simultan tingkat kompetensi dan pengalaman kerja berpengaruh secara signifikan terhadap etos kerja, dimana pengaruh yang paling dominan diberikan oleh variabel tingkat kompetensi.

Kata Kunci : Tingkat Kompetensi, Etos Kerja, Pengalaman Kerja

 
PENDAHULUAN
Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa yang akan datang adalah yang mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa lain di dunia. Hal ini dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis.
Sertifikasi guru merupakan sebuah terobosan dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas seorang guru, sehingga ke depan semua guru harus memiliki sertifikat sebagai lisensi atau ijin mengajar. Dengan demikian, upaya pembentukan guru yang profesional di Indonesia segera menjadi kenyataan dan diharapkan tidak semua orang dapat menjadi guru dan tidak semua orang menjadikan profesi guru sebagai batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan seperti yang terjadi beberapa tahun lalu.
Dewasa ini, fenomena yang terkait dengan sertifikasi guru adalah guru sebagai tenaga pendidik yang sering disebut sebagai agent of learning (agen pembelajaran) menjadi sosok yang cenderung certificate-oriented bukan program-oriented. Sebagian guru rela mengumpulkan sertifikat dengan segala cara untuk melengkapi portopolio dalam sertifikasi daripada memikirkan strategi atau teknik apa yang akan digunakan ketika mengajar. Bahkan mereka tidak segan untuk membeli sertifikat pada panitia workshop atau seminar yang terkait dengan pengembangan pengajaran. Tentu saja fenomena ini sangat kontradiktif sekali dengan tujuan dan terobosan pemerintah terkait dengan pengembangan mutu pendidikan di Indonesia.
Ironisnya menurut ketua pelaksana uji sertifikasi guru di Yogyakarta (kompas, 19/12/2008) Rochmat Wahab mengungkapkan, beberapa guru terbukti memalsukan ijazah dan akta guna mendongkrak nilai. Untuk memenuhi prasyarat utama berpendidikan S1 atau D4, guru-guru juga tak segan mengambil kuliah jalur cepat atau memalsukan keterangan lama mengajar. Kemungkinan terjadi manipulasi oleh guru bisa dimulai dari sejak penyusunan berkas. Kunci utama kebenaran berkas portofolio terletak di tangan tiap guru. Dan hal ini sangat berbenturan dengan amanat Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) yang menjelaskan bahwa melalui standar kompetensi dan sertifikasi, diharapkan dapat dipilah dan dipilih guru-guru profesional yang berhak mendapatkan tunjangan profesi. Jadi pada dasarnya, hal utama yang menjadi penekanan dalam proses sertifikasi adalah kompetensi guru.
Permasalahan lain yang timbul di masyarakat sebagai imbas dari program sertifikasi adalah sering terjadinya disharmoni antar guru. Ambil contoh, seorang guru tua yang telah lama mengabdi namun karena hanya berbekal ijazah Sekolah Pendidikan Guru (SPG) maka dia tidak lolos dalam sertifikasi. Sebaliknya guru muda yang baru lulus dari pendidikan kesarjanaan dapat dengan mudah lulus sertifikasi dan memperoleh keuntungan ekonomi yang lebih daripada guru tersebut. Dari sini bisa dilihat bahwa aspek keadilan masih belum terasa.
Kompetensi guru tidak lepas dari pengalaman kerja mereka. Rendahnya pengalaman kerja guru akan sangat berpengaruh terhadap etos kerja yang pada akhirnya berimbas pada kinerja. Kinerja yang rendah tentu saja berdampak langsung terhadap mutu pendidikan.
Kemudian yang menjadi kekhawatiran adalah pengaruh negatif yang akan ditimbulkan dari tingkat kompetensi dan pengalaman kerja tersebut terhadap etos kerja mereka. Pertanyaan yang kemudian lahir dari kekhawatiran tersebut ialah adakah pengaruh tingkat kompetensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja para guru bersertifikat.
Permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh tingkat kompetensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja para guru sertifikasi?

LANDASAN TEORI 
Tingkat Kompetensi
Kompetensi merupakan kemampuan yang digunakan sebagai standar kinerja seseorang yang diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap kinerja organisasi. Kompetensi mempunyai arti yang sangat luas dan variatif, dan dalam implementasinya disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan individu yang bersangkutan. Cut Zurnali (2010:15-16) merangkum beberapa pengertian kompetensi dari pakar sebagai berikut:
1.    Richard E. Boyatzis (2008) mengemukakan: kompetensi merupakan karakteristik-karakteristik dasar seseorang yang menuntun atau menyebabkan keefektifan dan kinerja yang menonjol.
2.    Menurut Glossary Our Workforce Matters (Sinnott. et.al: 2002), kompetensi adalah karakteristik dari karyawan yang mengkontribusikan kinerja pekerjaan yang berhasil dan pencapaian hasil organisasi. Hal ini mencakup pengetahuan, keahlian dan kemampuan ditambah karakteristik lain seperti nilai, motivasi, inisiatif dan control diri.
3.    Le Boterf dalam Denise et al (2007) menyatakan: kompetensi merupakan sesuatu yang abstrak; hal ini tidak menunjukkan adanya material dan ketergantungan pada kegiatan kecakapan individu. Jadi kompetensi bukan keadaan tapi lebih pada hasil kegiatan dari pengkombinasian sumber daya personal (pengetahuan, kemampuan, kualitas, pengalaman, kapasitas kognitif, sumberdaya emosional, dan lainnya) dan sumberdaya lingkungan (teknologi, database, buku, jaringan hubungan, dan lainnya).
4.    Menurut Sinnott et.al (2002), kompetensi adalah alat pengkritisi dalam tugas kerja dan pergantian perencanaan. Di tingkat minimum, kompetensi berarti: a) mengenali kapabilitas, sikap dan atribut yang dibutuhkan untuk memenuhi staf saat ini dan di masa depan sebagai prioritas organisasi dan pertukaran strategis dan b) memfokuskan pada usaha pengembangan karyawan untuk menghilangkan kesenjangan antara kapabilitas yang dibutuhkan dengan yang tersedia.
Beberapa aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi menurut Palan (2007) dalam Popi Sopiatin (2010:57) adalah sebagai berikut:
1.    Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya seorang karyawan mengetahui cara melakukan identifikasi belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada di perusahaan.
2.    Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif, dan afektif yang dimiliki oleh individu. Misalnya, seorang karyawan dalam melaksanakan pembelajaran harus mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi kerja secara efektif dan efisien.
3.    Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku para karyawan dalam melaksanakan tugas (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain-lain).
4.    Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepada karyawan.  Misalnya standar perilaku para karyawan dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan efisien.
5.    Sikap (attitude), yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji.
6.    Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya melakukan suatu aktivitas kerja.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 Tahun 2007, mengenai Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru mencakup empat Kompetensi utama yakni Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Sosial, dan Profesional.
Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja adalah proses pembentukan pengetahuan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena keterlibatannya dalam pelaksanaan tugas pekerjaan (Manulang, 2004:15). Pendapat lain mengemukakan pengalaman kerja adalah ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik (Ranupandojo, 2001:71).
Menurut T. Hani Handoko (2001:241), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengalaman kerja karyawan. Beberapa faktor lain mungkin juga berpengaruh dalam kondisi-kondisi tertentu, tetapi adalah tidak mungkin untuk menyatakan secara tepat semua faktor yang dicari dalam diri pegawai potensial. beberapa faktor tersebut adalah:
1.    Latar belakang pribadi, mencakup pendidikan, kursus, latihan, bekerja. Untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan seseorang di waktu yang lalu.
2.    Bakat dan minat, untuk memperkirakan minat dan kapasitas atau kemampuan seseorang.
3.    Sikap dan kebutuhan (attitudes and needs) untuk meramalkan tanggung jawab dan wewenang seseorang.
4.    Kemampuan-kemampuan analitis dan manipulatif untuk mempelajari kemampuan penilaian dan penganalisaan.
5.    Keterampilan dan kemampuan tehnik, untuk menilai kemampuan dalam pelaksanaan aspek-aspek tehnik pekerjaan.
Foster (2001:43), menyatakan ada beberapa hal juga untuk menentukan berpengalaman tidaknya seorang karyawan yang sekaligus sebagai indikator pengalaman kerja yaitu :
1.    Lama waktu/ masa kerja
Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik.
2.    Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
Pengetahuan merujuk pada konsep, prinsip, prosedur, kebijakan atau informasi lain yang dibutuhkan oleh pegawai. Pengetahuan juga mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu tugas atau pekerjaan.
3.    Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
Tingkat penguasaan seseorang dalam pelaksanaan aspek-aspek tehnik peralatan dan tehnik pekerjaan.
Etos Kerja Kerja
Menurut Munir A.S. (2003:225), etos kerja adalah sebagai kesuksesan yang dapat dicapai individu di dalam melaksanakan pekerjaannya yang ukuran kesuksesannya tidak dapat disamakan begitu saja dengan individu lainnya. Etos adalah aspek evaluatif yang bersifat menilai. Soerjono Soekanto (2003:174) mengartikan etos antara lain: 1) nilai dan ide dari suatu kebudayaan, dan 2) karakter umum suatu kebudayaan.
Menurut Nurcholis dalam Toto Tasmara (2004:110), etos berasal dari bahasa yunani (ethos), artinya watak atau karakter”. Secara lengkap etos ialah watak atau karakter dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan dan seterusnya yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Sedangkan Cherington dalam Sondang P. Siagin (2005:4) berpendapat bahwa, etos kerja dapat diartikan sebagai nilai kerja positif yang dimiliki seseorang dengan ciri-ciri seperti: 1) kerja sebagai kewajiban maoral dan religius untuk mengisi hidupnya, 2) disiplin kerja yang tinggi dan 3) kebanggaan atas hasil karyanya.
Dalam rumusan Sinamo (2009:30), etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigma kerja yang integral. Menurutnya, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas menganut paradigma kerja, mempercayai, dan berkomitmen pada paradigma kerja tersebut, semua itu akan melahirkan sikap dan perilaku kerja mereka yang khas. Itulah yang akan menjadi etos kerja dan budaya. Lebih lanjut Sinamo (2009:32) memandang bahwa etos kerja merupakan fondasi dari sukses yang sejati dan otentik. Pandangan ini dipengaruhi oleh kajiannya terhadap studi-studi sosiologi sejak zaman Max Weber di awal abad ke-20 dan penulisan-penulisan manajemen dua puluh tahun belakangan ini yang semuanya bermuara pada satu kesimpulan utama; bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja. Sebagian orang menyebut perilaku kerja ini sebagai motivasi, kebiasaan (habit) dan budaya kerja.
Zainun (2006:89) mengatakan bahwa terdapat enam faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya etos kerja, yaitu:
1.    Adanya tingkat kepuasan ekonomis dan kepuasan materiil lainnya yang memadai (gaji, insentif, bonus dan kesempatan untuk berprestasi).
2.    Hubungan yang harmonis antara pimpinan dengan bawahan terutama pimpinan kerja yang sehari-hari langsung berhubungan dengan para pekerja bawahannya.
3.    Kepuasan para pekerja terhadap tugas dan pekerjaannya karena memperoleh tugas yang disukai sepenuhnya.
4.    Terdapat suatu rencana dan iklim kerja yang bersahabat dengan angota-anggota lain organisasi. Apalagi dengan mereka yang sehari-harinya dapat banyak berhubungan dengan pekerjaan.
5.    Rasa kemanfaatan bagi tercapainya tujuan organisasi yang juga merupakan bersama mereka yang harus diwujudkan bersama-sama mereka pula.
6.    Adanya ketenangan jiwa, jaminan kepastian serta perlindungan terhadap segala sesuatu yang dapat membahagiakan diri pribadi dan karir dalam pekerjaannya.
Menurut Strauss G dan Saytes K, (1999:147), terdapat enam aspek yang mempengaruhi etos kerja adalah sebagai berikut:
1.    Pertimbangan dalam bekerja
2.    Kreativitas dalam bekerja
3.    Tanggung jawab dalam pekerjaan
4.    Kemampuan dalam melaksanakan tugas
5.    Pengetahuan tentang pekerjaan
6.    Antusias terhadap pekerjaan
Sedangkan menurut Siswanto B. (2001:181), terdapat empat aspek yang mempengaruhi Etos Kerja adalah sebagai berikut:
1.    Kecakapan yang dimiliki seseorang
2.    Pengalaman yang diperoleh pada masa lalu
3.    Kesanggupan seseorang dalam bekerja
4.    Ketrampilan yang ada pada diri seseorang
Penelitian Terdahulu
Penelitian dikemukakan Fitriyadi (2008) dengan judul: Pengaruh Kompetensi Skill, Knowledge, Ability dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia terhadap Etor Kerja Operator PD. Bangun Banua Propinsi Kalimantan Selatan menunjukkan variabel kompetensi skill teknis, kompetensi skill non teknis, knowledge dan ability mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan etos kerja karyawan. Secara parsial variabel yang paling besar memberikan pengaruh terhadap peningkatan etos kerja karyawan adalah variabel kompetensi knowledge.
Penelitian yang dilakukan oleh Masruhi Kamidin (2011) dengan judul:   Pengaruh Kompetensi terhadap Etos Kerja Pegawai Sekretariat Daerah  Kabupaten Bantaeng memperoleh hasil bahwa komptensi berpengaruh signifikan terhadap etos kerja pegawai sekretariat daerah Kabupaten Bantaeng.
Selanjunya penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Triyono (2009), dengan judul: Pengaruh Beberapa Faktor terhadap Peningkatan Etos Kerja Pegawai Badan Meteorologi dan Geofisika menunjukkan bahwa faktor pengetahuan, keterampilan, pengalaman kerja dan penguasaan teknologi berpengaruh signifikan terhadap etos kerja pegawai dan yang paling dominan mempengaruhi etos kerja pegawai adalah pengetahuan.
Berdasarkan hasil beberapa penelitian terdahulu yang mengkaji pengaruh kompetensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja menunjukkan bahwa variabel kompetensi dan etos kerja memiliki peranan besar dalam menunjang etos kerja seseorang.
Kerangka Berpikir
Etos kerja seseorang berkaitan dengan kempetensi yang dimilikinya dalam penyelesaian tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Sebab kompetensi merupakan perilaku individu yang dapat dilihat pada saat ia mengerjakan pekerjaannya. Kompetensi yang dimiliki oleh setiap individu dapat mempengaruhi keefektifan dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan demikian tampak bahwa kompetensi dihubungkan dengan sikap dan perilaku individu dalam melakukan pekerjaannya. Kaitannya dalam penyelesaian tugas-tugasnya sebagai seorang guru, maka berbagai kompetensi yang harus dimiliki seorang guru tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 Tahun 2007, mengenai Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru mencakup empat kompetensi utama yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Selain tingkat kompetensi yang dimiliki, sikap dan perilaku seseorang dalam bekerja jaga ditentukan oleh pengalamannya dalam bekerja. Pengalaman kerja dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk dapat menganalisa dan mendorong efisiensi dalam pelaksanaan tugas pekerjaan, dimana setiap pegawai yang berpengalaman akan melakukan gerakan yang mantap dalam bekerja tanpa disertai keraguan, dan dapat menghadapi berbagai kesulitan dan tantanga yang timbul saat bekerja serta akan lebih memiliki rasa percaya diri yang cukup besar saat mnyelesaikan pekerjaaanya.
Skema kerangka pemikiran dalam penelitian adalah sebagai berikut :














Gambar 1. Kerangka Berpikir
Hipotesis
Rumuskan hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho    : Tidak  ada  pengaruh   tingkat komptensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang baik secara parsial maupun simultan.
Ha    :   Ada  pengaruh   tingkat   komptensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang baik secara parsial maupun simultan.

METODE PENELITIAN
Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Adapun variabel bebas adalah kekuatan tingkat komptensi (X1) dan pengalaman kerja (X2) sedangkan variabel terikatnya etos kerja (Y).
Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjabaran dari suatu variabel penelitian ke dalam indikator-indikator atau gejala-gejala yang terperinci dengan demikian variabel tersebut dapat diketahui. Adapun operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Tingkat Kompetensi
Tingkat kompetensi yang dalam hal ini kompetensi seorang guru adalah kemampuan seorang guru yang terkait dengan perilaku yang dapat diamati dan kemampuan yang terkait dengan pekerjaannya dalam memberikan pelayanan kepada siswa.  Variabel tingkat kompetensi dalam penelitian ini diukur dengan indikator : 1) Kompetensi pedagogik, 2) Kompetensi kepribadian, 3) Kompetensi sosial, dan 4) Kompetensi profesional.
2.    Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja merupakan tingkat penguasaan pengetahuan serta keterampilan seseorang dalam pekerjaannya. Variabel pengalaman kerja dalam penelitian ini diukur dengan indikator: 1) Masa kerja, 2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan, dan 3) Penguasaan terhadap pekerjaan.
3.    Etos Kerja
Etos kerja merupakan dasar yang akan membentuk sikap, kebiasaan serta kepercayaan yang bersifat khusus tentang seseorang individu maupun sekelompok manusia. Variabel etos kerja dalam penelitian ini diukur dengan indikator: 1) Penilaian hasil kerja, 2) Pandangan kerja, 3) Kerja sebagai aktifitas, 4) Ketekunan kerja, dan 5) Kerja sebagai ibadah.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang yang berjumlah 30 orang. Untuk keperluan pengambilan sampel penelitian digunakan teknik sesus, yaitu mengambil seluruh anggota populasi guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang sebagai sampel penelitian.
Jenis  dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber atau objek penelitian. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik komunikasi dengan menggunakan angket (kuesioner). Data sekunder adalah data yang diperoleh dari luar sumber objek penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dengan membaca berbagai literatur dan internet yang berkaitan dengan obyek yang diteliti.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu: metode angket dan metode dokumentasi. Metode angket digunakan untuk memperoleh data mengenai segala masalah yang ada kaitannya dengan tingkat kompetensi, pengalaman kerja dan etos kerja sedangkan metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai gambaran umum SMA Negeri 14 Semarang yang menjadi obyek penelitian.
Teknik Analisis Data
Analisis data didahului dengan uji validitas dan reliabilitas isntrumen penelitian. Validitas menunjukkan ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukur apa yang ingin diukur sedangkan reliabilitas menunjukkan konsistensi dan stabilitas yang merupakan indikasi sejauh mana pengukuran itu memberikan hasil yang relatif tidak berbeda jika dilakukan pengukuran berulang terhadap kelompok subjek yang sama. Kuesioner yang sudah valid dan reliabel digunakan untuk mengumpulkan data penelitian.
Uji asumsi klasik diaplikasikan untuk memeriksa sifat linearitas variabel dan data penelitian. Pengujian ini terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas.
Setelah asumsi klasik dipenuhi, uji regresi berganda digunakan untuk mengukur pengaruh tingkat kompetensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja.
Uji regresi linear berganda merupakan alat analisis yang digunakan untuk menunjukkan pengaruh antara dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Persamaan regresi linear berganda yang digunakan adalah sebagai berikut :
Y = βo + β1 X1 + β2 X2 + e
Keterangan:
Y    = Etos kerja
X1    = Tingkat kompetensi
X2    = Pengalaman kerja
β0    = Konstanta
β1 dan β2      = Koefisien regresi parsial
e    = Standart error
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Instrumen Penelitian
Suatu instrumen yang baik untuk penelitian adalah instrumen yang valid dan reliabel. Oleh karena itu sebelum dilakukan analisis terhadap data penelitian perlu terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas intrumen tersebut.
Berdasarkan perhitungan validitas dengan menggunakan program SPSS  menunjukan bahwa rhitung dari item-item variabel tingkat kompetensi, pengalaman kerja dan etos kerja mempunyai nilai lebih besar dari nilai rtabel (0,374), sehingga item-item dari variabel tingkat kompetensi, pengalaman kerja dan etos kerja dapat dikatakan valid. Hasil selengkapnya dari perhitungan validitas tersebut dapat disajikan pada tabel berikut:
Tabel 1. Hasil Uji Validitas Kuesioner Tingkat Kompetensi
No.    rhitung    rtabel    Ket.    No.    rhitung    rtabel    Ket.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.    0,446
0,496
0,458
0,494
0,554
0,766
0,629
0,522
0,393
0,689
0,553
0,584    0,374    Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid    13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.    0,449
0,479
0,460
0,352
0,547
0,510
0,450
0,444
0,533
0,529
0,544
0,689    0,374    Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Tabel 2. Hasil Uji Validitas Kuesioner Pengalaman Kerja
No.    rhitung    rtabel    Ket.    No.    rhitung    rtabel    Ket.
1.
2.
3.
4.
5.    0,536
0,412
0,391
0,457
0,651    0,374    Valid
Valid
Valid
Valid
Valid    6.
7.
8.
9.
10.    0,728
0,463
0,401
0,523
0,438    0,374    Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Tabel 3. Hasil Uji Validitas Kuesioner Etos Kerja
No.    rhitung    rtabel    Ket.    No.    rhitung    rtabel    Ket.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.    0,395
0,483
0,495
0,452
0,623
0,587
0,700
0,493
0,514    0,374    Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid    10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.    0,795
0,549
0,451
0,422
0,463
0,665
0,492
0,623
0,577    0,374    Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Hasil pengujian reliabilitas dari masing-masing variabel dalam penelitian ini menujukkan koefisien Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6, maka dapat dijelaskan bahwa kuesioner pada variabel tingkat kompetensi, pengalaman kerja dan etos kerja dinyatakan reliabel. Hasil selengkapnya dari perhitungan validitas tersebut dapat disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian
Nama Variabel    Cronbach Alpha    Alpha    Ket
Tingkat kompetensi (X1)
Pengalaman kerja (X¬2)
Etos kerja (Y)    0,875
0,644
0,859    0,6
0,6
0,6    Reliabel
Reliabel
Reliabel
         
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk memastikan bahwa data yang digunakan berdistribusi normal dan dalam model tidak mengandung multikolinieritas,  heteroskedastisitas.
Uji normalitas dilakukan menggunakan normal probability plot.










Grafik 1. Normal Probability Plot

Grafik di atas menunjukkan penyebaran data penelitian ini berada di sekitar dan sepanjang garis 45o, dengan demikian menunjukkan bahwa data-data pada variabel penelitian berdistribusi normal.
Uji Multikolinieritas didarakan pada nilai variance inflation factor (VIF) dan toleransi.
Tabel 5. Nilai Toleransi dan Variance Inflation Factor (VIF)
Variabel Bebas    Toleransi    VIF
Tingkat kompetensi (X1)
Pengalaman kerja (X2)    0,617
0,617    1,621
1,621
                   
Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai  toleransi sebesar 0,617 lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF sebesar 1,621 lebih kecil dari 10. Oleh karena dapat dijelaskan dalam model regresi tidak terdapat problem multikolinieritas.
Uji heteroskedastisitas dideteksi dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu yang teratur pada grafik scatterplot serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y.












Grafik 2. Scatterplot

Grafik scatterplot di atas menunjukkan bahwa tidak ditemukan pola tertentu yang teratur dan titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka not pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
Analisis Regresi Linier Ganda
Berdasarkan hasil analisis regresi bergadan antara tingkat kompetensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja dengan menggunakan program komputasi SPSS for windows relase 16 diperoleh persamaan regresi ganda yaitu :  = 5,032+ 0,378X1 + 0,711X2. Persamaan regresi tersebut mempunyai makna sebagai berikut:
1.    Konstanta = 5,032
Jika skor variabel tingkat kompetensi dan pengalaman kerja diasumsikan 0, maka skor etos kerja akan menjadi sebesar 5,032.
2.    Koefisien X1 = 0,378
Jika skor variabel tingkat kompetensi mengalami peningkatan sebesar 1 (satu) satuan sementara skor variabel pengalaman kerja dianggap tetap, maka akan menyebabkan kenaikan skor etos kerja sebesar 0,378.
3.    Koefisien X2 = 0,711
Jika skor variabel pengalaman kerja meningkat 1 (satu) satuan sementara skor tingkat kompetensi dianggap tetap, maka akan menyebabkan kenaikan skor etos kerja sebesar 0,711.
Pengujian Hipotesis Secara Parsial
Pengujian hipotesis secara parsial ini dimaksudkan untuk menguji keberartian pengaruh dari masing-masing variabel bebas yaitu tingkat kompetensi (X1), dan pengalaman kerja (X2) terhadap etos kerja (Y).
Hasil perhitungan untuk variabel tingkat kompetensi diperoleh nilai thitung = 3,159 > 2,05 untuk  = 5% dengan df = 27 dan signifikansi 0,004 < 0,05, Jadi dapat dinyatakan bahwa ada pengaruh antara tingkat kompetensi terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang.
Hasil perhitungan untuk variabel pengalaman kerja diperoleh nilai thitung = 2,360 > ttabel = 2,05 untuk  = 5% dengan df = 27 dan signifikansi 0,026 < 0,05, Jadi dapat dinyatakan bahwa ada pengaruh pengalaman kerja terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang.
Pengujian Hipotesis Secara Simultan
Pengujian hipotesis secara simultan dimaksudkan untuk menguji keberartian pengaruh secara bersama-sama variabel bebas yaitu tingkat kompetensi (X1), dan pengalaman kerja (X2) terhadap etos kerja (Y).  Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai Fhitung = 20,087 > Ftabel = 3,35 untuk  = 5% dengan df (2:27)  dan signifikansi 0,000 < 0,05. Jadi dapat dinyatakan bahwa ada pengaruh tingkat kompetensi dan pengalaman kerja terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang.
Nilai koefisien determinasi simultan (R2) sebesar 0,568. Dengan demikian menunjukkan bahwa tingkat kompetensi dan pengalaman kerja secara bersama-sama mempengaruhi etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang sebesar 56,8%. Nilai koefisien determinasi parsial tingkat kompetensi terhadap etos kerja adalah 0,270 sedangkan pengalaman kerja terhadap etos kerja adalah 0,171. Dengan demikian menunjukkan bahwa pengaruh tingkat kompetensi terhadap etos sebesar 27,0% sedangkan pengaruh pengalaman kerja terhadap etos kerja sebesar 17,1%. 
Adanya pengaruh yang lebih dominan dari tingkat kompetensi terhadap etos kerja dibandingkan pengalaman kerja dikarenakan dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya sebagai tenaga kependidikan, seorang guru dituntut memiliki tingkat kompetensi yang memadai menyangkut kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Tanpa dimilikinya kompetensi sebagai tenaga kependidikan yang memadai maka seorang guru tidak tidak akan dapat menunjukkan sikap yang positif dalam bekerja, mereka cenderung akan menjadi malas dalam melaksanakan tugas profesinya yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya etos kerjanya.
Hal tersebut didukung pendapat Strauss G. dan Saytes K. (1999: 147),  yang menyatakan bahwa etos kerja seseorang ditentukan oleh pertimbangan-pertibangannya dalam bekerja, kreativitasnya dalam bekerja, tanggung jawabnya dalam pekerjaan, kemampuannya dalam melaksanakan tugas, pengetahuannya tentang pekerjaan yang dilakukan, dan antusiasmenya terhadap pekerjaan. Adapun kreativitas seseorang dalam bekerja, kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas, dan pengetahuan seseorang tenyang pekerjaannya berkaitan erat dengan tingkat kompetensi seseorang dalam bidang pekerjaan yang ditekuninya.
Walaupun tidak sebesar tingkat kompetensi, namun pengalaman kerja juga berpengaruh secara signifikan terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang. Kondisi tersebut dikarenakan pelanggan dalam melakukan pekerjaan yang dalam hal ini adalah pekerjaan seseorang sebagai seorang guru akan memudahkan seseorang melakukan pekerjaannya tersebut yang pada akhirnya sikap orang tersebut terhadap pekerjaannya menjadi positif. Dengan kata lain seseorang yang sudah berpengalaman dalam bekerja akan menunjukkan etos kerja yang tinggi.
Hal tersebut didukung pendapat Siswanto B. (1991: 181), bahwa aspek-aspek yang mempengaruhi etos kerja seseorang diantaranya adalah kecakapan yang dimiliki dalam bekerja, pengalaman yang diperoleh pada masa lalu, kesanggupan dalam bekerja, dan ketrampilannya dalam bekerja. Bagi seorang guru yang sudah berpengalaman dalam bekerja yang ditunjukkan dari masa kerjanya yang sudah lama akan memiliki berbagai pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam bekerja  sehingga memudahkan mereka untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya tersebut dengan mudah sehingga sikapnya dalam bekerja atau etos kerjanya akan menjadi baik pula.

SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut :
1.    Ada pengaruh yang signifikan antara tingkat kompetensi terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang.
2.    Ada pengaruh yang signifikan antara pengalaman kerja terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang.
3.    Secara bersama-sama tingkat kompetensi dan pengalaman kerja berpengaruh terhadap etos kerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 14 Semarang dengan pengaruh yang paling dominan diberikan oleh variable tingkat kompetensi.
Saran yang dapat diajukan berdasarkan simpulan di atas adalah sebagai berikut :
1)    Dalam upaya meningkatkan etos kerja guru dapat dilakukan dengan meningkatkan kompetensinya baik kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, komptensi sosial maupun kompetensi profesionalnya.
2)    Tidak menutup kemungkinan bagi guru yang masih kurang berpengalaman dalam mengajar untuk tetap menunjukkan etos kerja yang tinggi dengan jalan membekali diri dengan berbagai kompetensi yang dapat menunjang pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya sebagai tenaga kependidikan.
3)    Bagi peneliti lain yang tertarik melakukan penelitian sejenis diharapkan dapat menambahkan variabel lain yang mempengaruhi etos kerja seperti kesejahteraan guru atau yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Kusnan. 2004. Analisis Sikap Iklim Organisasi, Etos Kerja dan Disiplin Kerja dalam Menentukan Efektifitas Kinerja Organisasi di Garnizun Tetap III Surabaya. Laporan Penelitian diakses pada tanggal 25 Februari 20012 dari http://www.damandiri/akusnan.html.
Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyan. 2008. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Roedakarya Offset.
Cut Zurnali. 2010. Learning Organization, Competency, Organizational Commitment, dan Customer Orientation. Bandung: Unpad Press. 
Fitriyadi. 2008. Pengaruh Kompetensi Skill, Knowledge, Ability dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia terhadap Etor Kerja Operator PD. Bangun Banua Propinsi Kalimantan Selatan. Jurnal Arministrasi dan Manajemen Tahun I/02/Nopember/2008:1-31.
Foster, Bill. 2001. Pembinaan untuk Peningkatan Kinerja Karyawan. Jakarta: PPM.
Imam Ghozali. 2002. Aplikasi Analisis Univariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas diponegoro.
Pandji Anoraga. 2006. Psikologi Kerja. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Popi Sopiatin. 2010. Manajemen Belajar Berbasis Kepuasan Siswa. Bogor: Ghalia Indonesia.
Manulang. 2004. Manajemen Personalia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Marwan Asri. 2006. Pengelolaan Karyawan. BPFE : Yogyakarta.
Masruhi Kamidin. 2009. Pengaruh Kompetensi terhadap Etos Kerja Pegawai Sekretariat Daerah  Kabupaten Bantaeng. Jurnal Economic Resources, ISSN. 0852-1158, Vol.11 No.30, Februari 2010.
Muhammad Triyono. 2009. Pengaruh Beberapa Faktor Terhadap Peningkatan Etos Kerja Pegawai Badan Meteorologi dan Geofisika.  Jurnal Ilmiah Manajerial Vl. 2. No. 1. Maret 2009 ISSN:0216-3705.
Munir A. S. 2003. Administrasi Kantor Modern. Ghalia Indonesia : Jakarta
Sinamo, Jansen. 2009. Delapan Etos Kerja Profesional; Navigator Anda Menuju Sukses. Bogor: Grafika Mardi Yuana
Soerjono Soekanto. 2003. Perilaku Organisas. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sondang P. Siagian. 2005. Manajemen Sumberdaya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi Arikunto. 2006. Produser Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.  Jakarta: Rineka Cipta.
T. Hani Handoko. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Toto Tasmara. 2004. Etos Kerja Pribadi Muslim. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf.
Wursanto. 2000. Manajemen Kepegawaian. Yogyakarta: Kanisius.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru..

Sun, 21 Apr 2013 @09:34

Copyright © 2014 TEAM IT Universitas Pandanaran semarang · All Rights Reserved